Hukum Melaksanakan Aqiqah

Lahirnya putera atau puteri dari sebuah pernikahan menimbulkan kebahagiaan yang luar biasa. Memiliki anak atau mempunyai keturunan adalah impian banyak orang yang menikah. Kehadiran anak ini adalah salah satu dari tujuan pernikahan. 

Rasa bahagia yang luar biasa ini sangat disyukuri banyak orang. Salah satu wujudnya adalah melaksanakan aqiqah. Akikah / Aqiqah dalam agama Islam adalah sembelihan hewan untuk anak yang baru lahir sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Oleh sebagian ulama ia disebut dengan nasikah atau dzabihah (sembelihan).

Hukum aqiqah itu sendiri menurut kalangan Syafii dan Hambali adalah sunnah muakkadah. Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

Hadist ini yang memerintahkan bahwa aqiqah adalah hal yang disunnahkan untuk dilakukan ketika setiap anak lahir ke dunia ini. 

Jadi hukum melaksanakan aqiqah adalah sunnah muakkadah. 

Baca juga Makna dan Waktu Pelaksanaa Aqiqah