Blog

Info untuk Para Member

Selamat Datang di ABDEKO, Komunitas Bisnis Digital Ekosistem

3658182072?profile=RESIZE_710xSalam, Sejahtera..

Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Tuhan, perkembangan web komunitas kita semakin dewasa. ABDEKO eksis sampai detik ini berkat dukungan para member dan pengunjung yang selalu aktif. Untuk keberlangsungan komunitas ini menjadi lebih baik dan profesional, mulai Oktober 2019, ABDEKO menyediakan fitur membership kepada setiap member yang ingin mem-posting dan mempromosikan produknya hingga Page One. Sahabat ABDEKO yang pernah melakukan posting semasa promo free…

Read more…

cara menulis (1)

Mulailah, Kemudian Perbaiki

Hmmm... Diambil dari akun Twitter Pandji Pragiwaksono: @pandji

Diingatkan oleh Panji Pragiwaksono - salah satu pioner Stand Up Comedy Indonesia - di liputan ulangan acara Tour monolog - baca standup comedy- beliau di Jakarta mengatakan "Mulailah terlebih dulu baru perbaiki ...".

Saya sepakat dan sepaham dengan pendapat Panji di sesi ini karena jika kita tidak memulai dengan sengaja sesuatu hal yang kita inginkan maka kita tidak bisa melihat kesempatan untuk memperbaik, loh kok gitu?
Yoi, kalaulah tidak dimulaikan maka tidak ada akan perbaikan..

Absurd?
Yup yup yup, memanglah absurd dan saya seringkali memilih hal absurd ini, kalimat sederhana ini menohok karena merupakan hasil dari kajian komprehensif dan komplek yang sudah Panji pratekkan dan hidup dengannya. Tour stand up comedy "Juru Bicara" ini dilakukan di berbagai negara di benua yang berbeda dimana rasanya baru Panji Pragiwaksono saja stand up comedian yang "nekad" untuk melakukan tour di berbagai negara dan membuat orang Indonesia di Luar negeri tahu bahwa ada di Indonesia ada jagoan-jagoan stand up comedy yang kualitasnya juga bagus.

Apakah tidak ada orang lain yang melakukan monolog di luar negeri selain Panji?
Tentulah tidak, setidaknya saya ingat bahwa Butet Kertaradjasa sudah memulai tour monolog beliau di jauh hari, hanya saja kemasan Butet Kertaradjasa lebih kental dengan seni teater yang beliau geluti sedari beliau masih muda. 
Saya mencoba menarik kesimpulan dari apa yang dilakukan oleh Panji Pragiwaksono dan Butet Kertaradjasa dalam kegiatan monolog mereka, yaitu adanya proses kreatif menulis skenario sebelum acara monolog mereka dimulai. Skenario yang terus menerus diresapi, dihayati sehingga mereka hafal dengan sendirinya dan akhirnya jam terbang mereka membuat skenario / tulisan yang membedakan mereka dengan para pemula seperti saya.
Butet Kertaradjasa juga bertindak sebagai Juri di musim-musim awal Stand Up Comedy Indonesia di KOMPASTV.

Diambil dari http://sobrat406.blogspot.co.id

Selain Panji Pragiwaksono, Butet Kertaradjasa, Indro Warkop yang didaulat sebagai juri, ada hal yang menarik dari acara Kompas "Stand Up Comedy Indonesia" di awal kemunculannya yaitu adanya sosok Raditya Dika - salah satu penulis novel best seller, penulis skenario, produser film dan banyak lagi kegiatan beliau yang lainnya. Pada saat itu saya menganggap KompasTV berbuat "blunder" dengan mengundang sosok yang menurut saya "garing" dan bukan komedian menjadi Juri bahkan pembimbing para peserta, tanpa saya menyadari hal yang penting dari stand up itu sendiri yaitu skenario.

Pernyataan-pernyataan lucu dari para stand up comedy adalah disengaja dan dibuktikan dengan dimulai dengan cara menulis skenario, menulis apa saja yang akan mereka sampaikan di atas panggung dan Raditya Dika menjadi pilihan tepat untuk hal ini. Penulis muda, gaul, berpotensi dan punya keinginan untuk berbagi dengan orang-orang awam yang merintis karir mereka sebagai stand up comedy.

Nah... ini dia, kenyataan yang saya sulit terima.

Jika lawakan mereka dengan sengaja / mengikuti skenario yang mereka buat maka menulis skenario ini adalah menjadi salah tantangan terbesar bagi mereka. Maka pertanyaan itu muncul lagi, menulis itu mudah?

Ilustrasi diambil dari Pixabay


Yup, betul menulis itu tidak lah mudah.
Tulisan di blog ini adalah tulisan saya pertama kali yang dipublikasikan di internet dan saya berjuang untuk memutuskan menulis apa yang saya rasakan terhadap kegiatan menulis.

Tip dan trik menulis esai.

Ilustrasi diambil dari pixabay

Yup, seperti layaknya hendak keluar dari rumah kita yang nyaman yang harus kita lakukan adalah sederhana yaitu keluar dari pintu rumah.
Dimana ketika kita memutuskan menuju pintu keluar dan siap untuk membukanya dengan kata lain membuat keinginan untuk keluar rumah, 
setelah di depan pintu maka kita harus memastikan pintu tidak terkunci, terakhir kita haruslah melangkah keluar dari pintu yang sudah terbuka.
Jika hal ini dikaitkan dengan menulis maka saya bulatkan tekad untuk menulis, membuka pikiran saya agar mental block hilang dan segera menulis. 

Menulis tentang apa?
Tentang apa saja yang saya rasakan dan kuasai.

Kok Bisa yah? ...
Semudah itu kah?
Ya iyalah... Yuk coba kita renungkan terkadang kita mudah sekali mengetik banyak kata dan kalimat di sosial media yang ada dari Forum di Kaskus, Facebook, Whatsapp, twitter dan lain-lain dimana kalimat-kalimat tadi menjadi perwakilan apa saja yang kita rasakan dan alami.
Dengan menganggap blog adalah seperti sosial media yang kita ikuti maka kita akan menemukan banyak sekali kemudahan dalam merangkai kata dan kalimat, coba deh sekali-kali berperan aktif di grup media sosial yang diikuti dan coba mencatat apa saja yang kita tuliskan di grup itu tentulah akan menjadi ratusan kata dan mirip sekali dengan skenario di teater, FTV, sinetron, Stand up comedy dan lain lain.

Akhirnya apakah menulis itu mudah?
Saya cocok dengan ide dari Panji Pragiwaksono di atas tadi,  "Mulailah... kemudian perbaiki"

Taken from Pixbay

Read more…